Kenaikan harga beras di akhir tahun (November-Desember) ini tidak menjadikan petani untung, Justeru para spekulan yang banyak mengambil kesempatan. Bulan ini merupakan masa tanam di berbagai daerah, sebagaimana kita ketahui, sistem lumbung di petani sudah menghilang. Petani selalu menjual langsung hasil panennya dengan sistem tebasan, dikarenakan kebutuhan uang tunai untuk menggarap sawah pada musim tanam berikutnya. Tentunya pada saat kenaikan harga saat ini justeru petani harus membeli beras dengan mahal. namun pada saat panen raya harga-harga gabah sangat murah.

Memang kenaikan harga ini disinyalir dipicu oleh turunnya produksi akibat perubahan iklim dan banyaknya hama penyakit, tetapi seharusnya pemerintah melakukan proses antisipatif terhadap kondisi ini sehingga tidak menyebabkan harga beras melambung tinggi. Dalam hal ini peran lumbung pangan atau koperasi tunda jual merupakan jawaban untuk menjaga stok pangan di daerah-daerah.

Ada hal yang harus dicermati, kenaikan harga ini juga disebabkan aksi para spekulan menjelang ditetapkannya inpres perberasan, dimana hampir dipastikan tiap awal tahun pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP). Hal ini menyebabkan para spekulan memborong beras dan ditimbun untuk dijual pada awal tahun 2011. Dalam hal ini seharusnya pemerintah harus segera berkoordinasi dengan pedagang beras untuk tidak melakukan aksi penimbunan. Pemerintah harus melakukan pengawasan secara ketat, jika hal ini dibiarkan maka kejadian ini akan selalu berulang diakhir tahun berikutnya.

Diposkan oleh Aliansi Petani Indonesia Minggu, 28 November 2010 1 komentar



Berangkat dari pengetahuan yang didperoleh dalam pelatihan penyilangan benih padi yang dilaksanakan pada bulan juli 2009 di Indramayu, 15 orang petani dari Aliansi Petani Padi Organik Kabupaten Boyolali (APPOLI) pada tanggal 28-30 April 2010 melakukan praktek penyilangan benih padi varietas pandan wangi dengan IR 64 dan Ketan Lusi dengan Ciherang. Praktek ini dilaksanakan di Rumah Bapak Cipto sebagai Ketua Kelompok Tani Pangudi Bogo, Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Praktek ini di fasilitatori oleh Bapak Cipto yang pernah ikut pelatihan di Indramayu, dibantu oleh M fadlil kirom dari Seknas Aliansi Petani Indonesia.

Tujuan dari praktek ini adalah Meningkatkan kapasitas dan menguatkan posisi petani dalam mata rantai produksi beras dan mewujudkan kedaulatan pangan di pedesaan, Meningkatkan kualitas gabah dalam rangka meningkatkan produktifitas dan mutu, Menyeleksi benih unggul agar menjadi benih idaman di masing-masing tempat atau wilayah dan Mengembangkan benih unggul menjadi varietas yang disukai petani.

Hari pertama diisi dengan materi perkenalan, masalah-masalah pertanian secara umum, pemahaman tanaman padi (ciri umum dan manfaat), dan Sumber bahan baku yang ada di lokal. Beberapa temuan permasalahan petani diantaranya ketergantungan benih (harus beli), kualitas benih jelek, pupuk kimia mahal, Banyaknya hama (wereng dan penggerek batang), harga selalu jatuh terutama saat panen raya, kehidupan sehari-hari kebutuhannya meningkat, bulog tidak efektif, keasaman tanah semakin meningkat, debit air menurun, saluran rusak,adanya alih fungsi air oleh perusahaan, berkurangnya luas lahan tanah ke non pertanian, hutan masyarakat dan perhutani gundul, peran pemerintah dalam hal kebijakan dan modal kurang, peran kelompok tani belum optimal baik di desa, organisasi petani belum bersatu baik tingkat desa, kabupaten dan nasional, Tidak memiliki ternak untuk produksi kompos dan derasnya impor pertanian dan peternakan.

Sumber bahan baku padi lokal yang biasa ditanam diantaranya :
Varietas Sifat Varietas Sifat
Mentik Susu Aroma wangi
Rasanya enak
Pulen
Umur 105 hari
Tahan hama
Irit pupuk
Per ha 7,2 ton Pandan wangi Aroma wangi
Pulen
Umur 105 hari
Tahan hama
Batang tidak kuat
Per ha 6,5 ton
IR 64 Tidak aromatik
Rasanya biasa
Pulen
Umur 98-100
Kurang tahan hama
Anakan lebih banyak
Per ha 6,6 ton Ciherang Tidak kuat batangnya
Agak tahan hama
Produksi 6,6-9 ton
Membramo Mudah roboh
Kurang pulen
Kurang berisi
Ketan lusi Umur 105 hari
Aromaric
Pulen
Batang kokoh
Produksi 6 ton
Unggul-unggul Tidak aromatik
Keras
Umur 90-95 hari
Batang tidak kuat
Tahan hama Slegreng Umur 85 hari
Isinya banyak
Hemat pupuk dan air
Per ha : 5,5 ton
Warna merah, tidak aromatic
Kulitnya tipis
Shinta Nour Per ha : 8 Ton
Hemat pupuk
Aromatik
Pulen
Umur 90-100 hari mekongga Umur 95-100
Tidak aromatik
Kurang pulen
Tahan penyakit
Anakan banyak
Per ha : 7 ton
Padi hitam Umur 95-100 hari
Per ha : 5 ton
Hemat pupuk
Pulen
Warna hitam
Tahan kering
Obat

Pemetaan bahan baku dilakukan dengan melakukan skoring oleh peserta sebelum melakukan praktek pengebirian. Hasil Pemetaan bahan baku sebagai berikut :
Aspek Mentik Susu Pandan Wangi IR 64 Cihe
rang Memb
ramo Ketan lusi Unggul-unggul Sleg
reng Sinta noer Mekongga
Pulen 5 5 3 3 3 5 1 2 4 4
Umur Pendek 1 2 3 2 3 4 5 5 2 3
Tahan Hama 4 2 1 2 2 4 5 5 2 1
Produktifitas 3 4 5 4 3 2 1 1 4 5
Nilai Jual 5 4 3 3 4 5 1 4 4 3
Aromatik 5 5 2 2 3 2 1 1 4 2
Disukai pasar 5 4 5 4 4 5 1 4 4 3
Hemat Pupuk 5 4 1 1 2 4 5 5 4 1
Warna Cerah 4 4 3 3 5 4 5 1 3 3
Batang Kuat 3 1 5 5 2 4 1 1 2 4
Adaptasi mudah 5 5 1 1 2 3 3 4 3 2
45 (1) 40 (3) 32(7) 30 (9) 33 (6) 42 (2) 29 (10) 33 (5) 35 (4) 31 (8)

Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat pengebirian :
1. Tanaman padi harus sehat
2. jika ditanam di media pot min 10 hari sebelumnya harus dipindah, lebih baik sejak kecil
3. cara menggunting harus segitiga
4. putik tidak boleh rusak
5. daun tidak boleh rusak
6. batang tidak boleh patah
7. memisahkan benang sari harus hati-hati
8. penggunaan amplop:
- penulisan harus betul
- harus tertutup rapat
9. perawatan dan pengamatan selama 7 hari
10. selisih umur pejantan dan betina harus diketahui
11. waktu pengebirian jam 09-12 siang

hal-hal yang diperhatikan sebelum penyilangan
1. Jika ada warna putih pada bulir betina berarti sudah tidak bisa disilangkan
2. umur pejantan mempengaruhi banyaknya tepungsari
3. jika malai pejantan dipotong resikonya terbawa angin
4. memotong pejantan harus pagi hari (6-7)
5. Pejantan yang sudah dipotong diberi media air agar tidak layu
6. waktu penyerbukan harus memperhatikan arah angin
7. jangan sampai daun dan batang patah
8. melepas dan memasang amplop harus hati-hati jangan sampai rusak
9. waktu pemotongan betina ke penyerbukan 1 hari dengan tujuan untuk mengetahui berhasilnya pemotongan betina
10. keberhasilan penyerbukan dapat diketahui setelah 1 minggu ditandai dengan adanya isi pada bulir padi betina


Rencana tindak Lanjut
1. Kelompok
- Pengembangan penyilangan
- Sosialisasi ke anggota
- Praktek ditiap anggota dan kelompok

2. Appoli
- Mendampingi kelompok
- Memfasilitasi pelatihan
- Dokumentasi

3. API
- mendampingi APPOLI
- memfasilitasi lokakarya hasil
- membantu informasi tentang pembenihan

Diposkan oleh Aliansi Petani Indonesia Senin, 23 Agustus 2010 0 komentar



Brebes, 15-23 Juli 2010; sekitar 30 perempuan yang sebagian besar petani dari desa Bentar dan Bentarsari kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah melaksanakan pelatihan ketrampilan Membatik . pelatihan ini difasilitasi oleh Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Brebes. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan pembatik agar memperoleh batik tulis yang berkualitas dimana akan mampu meningkatkan pendapatan keluarga. Fasilitator pada pelatihan ini adalah Bapak Abdul Khanan sebagai pemilik galeri Batik Tulis Khas Brebes yang berlokasi di Kecamatan Bumiayu dan Ibu Hj Suratni sebagai Pelopor Batik di Desa Bentar Kecamatan Salem.

Sejarah Singkat Batik Tulis Brebes
Batik Brebes berkembang pada akhir abad 19 (tahun 1860-an) berkat perjuangan sepasang suami istri yang bernama Bapak Soetarso dari Desa Bentar Sari Kecamatan Salem, Brebes dan Ibu Sartoemi dari Wiradesa Pekalongan. Keahlian Ibu Sartoemi diperoleh dari keluarganya yang juga pembuat batik pekalongan. Setelah beliau menetap di Brebes dikembangkanlah motif batik yang sesuai dengan budaya lokal.
Pada tahap awal ciri khas motif batik Brebes berupa Glathik Emas dan Soga Berlian, namun pada berikutnya berkembang juga motif Kangkung dan motif Sayur Asem yang lebih akrab dengan keadaan masyarakat yang sehari-harinya bertani. dan dua motif tersebut dapat diterima oleh masyarakat .
Sekarang ini perkembangan batik Brebes yang berbasis industri kecil mengalami kemajuan yang cukup pesat , pada satu dasa warsa belakangan ini, sudah ada lebih dari 200 KK yang tersebar di wilayah Kecamatan Salem Kabupaten Brebes yang menggeluti dunia batik , tentunya usaha kerajinan batik ini sangat membantu dalam peningkatan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat pembatik yang ada di daerah Salem Brebes.
Adanya penerimaan pasar yang cukup baik terhadap produk batik Brebes, bisa dimengerti dari makna yang terkandung dalam motif Kangkung dan motif Sayur Asem. Secara filosofis orang jawa memaknai Kangkung dihubungkan dengan kata “Galih Kangkung”, yang merupakan simbolis dari tahapan moral, yaitu keikhlasan, sebab Galih Kangkung berbeda dengan Galih Jati dan Galih Asem. Jika Galih Kangkung ( Hatinya Kangkung itu Ikhlas, tanpa pamrih), namun Galih Jati dan Galih Asem masih ada bekasnya. Jadi Galih Kangkung bermakna kebesaran batin, sedangkan Galih Jati dan Galih Asem adalah kebesaran Lahir. Tentu simbol Kangkung ini sangat suci dan luhur dimana batik juga merupakan karya anak bangsa yang harus dilestarikan, agar tidak lupa sejarah dan tergantung dengan bangsa lain. Motif Sayur Asem juga menunjukkan proses jalan dan tahapan kehidupan sebagaimana Sayur Asem yang bahan-bahannya warna-warni, dari darat dan laut, manis, pahit dan asamnya kehidupan harus dijadikan bekal amal di dunia dan di akhirat nanti. Lebih lanjut Kebhinnekaan Sayur Asem menunjukkan perbedaan antar suku, agama, dan bahasa di Indonesia, sehingga harus bersatu agar nusantara menjadi bangsa yang tangguh.

Proses Pelatihan
Pelatihan dilaksanakan di Balai Desa Bentar kecamatan Salem. Kegiatan ini dimulai dari jam 08.00- 13.00 selama 9 hari. Hari pertama diisi dengan pembukaan dan sambutan dari Kepala Desa Bentar, Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan Brebes, dan Perwakilan Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Brebes. Hari kedua sampai hari keempat diisi dengan materi design batik, hari kelima dan keenam diisi pengenalan teknologi ”Kerekan”, hari ke tujuh dan ke delapan belajar tentang pewarnaan dan hari terakhir diisi dengan Evaluasi dan penutupan acara oleh Dinas terkait.
Secara umum peserta pelatihan memiliki partisipasi yang cukup baik, pelatihan ini dilaksanakan dengan metode orang dewasa sehingga ketika ada materi yang tidak dipahami, langsung saja para peserta bertanya pada fasilitator. Hasil nyata dari pelatihan ini adalah adanya hasil batik tulis yang lebih baik dari sebelumnya, efisiensi waktu pembuatan batik melalui teknologi kerekan, dan meningkatnya kemampuan design para peserta pelatihan.

Membatik Sebagai kegiatan Off Farm Petani Perempuan
Secara umum pembatik di kecamatan salem adalah petani perempuan. Mereka melakukan kegiatan membatik digunakan sebagai usaha sampingan diluar usaha pertanian yang menjadi sumber pokok pendapatan keluarga. Kegiatan membatik dilakukan setelah menyelesaikan kegiatan produksi pertanian di sawah ataupun diladang. Pada musim tanam dan musim panen yang memerlukan waktu lebih besar untuk di sawah atau ladang, produksi batik akan menurun. Akan tetapi ketika pasca musim tanam dan sebelum musim panen, petani perempuan mempunyai waktu yang lebih banyak untuk memproduksi batik.
Dalam satu bulan petani perempuan hanya mampu memproduksi maksimal tiga potong kain batik tulis, dengan penghasilan tambahan maksimal sebesar Rp 200.000. Pendapatan ini cukup membantu keluarga petani terutama di musim tanam dan paceklik, dimana petani sangat membutuhkan uang untuk keperluan produksi dan kebutuhan sehari-hari.

Diposkan oleh Aliansi Petani Indonesia 0 komentar




Akhir 2009 tepatnya tanggal 22 Desember, 25 orang petani anggota Jaringan Musyawarah Petani (JAMUNI) Brebes berkumpul di Rumah Bapak Amin Desa Linggapura Kecamatan Tonjong untuk membentuk Koperasi. Hadir dalam pertemuan ini Pengurus Jamuni, Seknas API dan Penyuluh dari Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Brebes.

Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Bapak Amin selaku ketua Koperasi, dilanjutkan Bapak Riva Sagni selaku Dewan Tani Jamuni, M Fadlil kirom dari Seknas Api. Setelah itu ada proses penyuluhan dari Dinkop dan UKM yang diwakili Bapak Gunanto. Materi dari penyuluhan tersebut berupa tujuan membentuk koperasi, syarat-syarat pembentukan koperasi, penyusunan pengurus, iuran wajib dan iuran pokok, dan pembagian Sisa Hasil Usaha serta proses legalisasi koperasi.

Pembentukan koperasi ini sebenarnya bertujuan untuk mensejahterakan petani dengan cara mengembangkan usaha bersama di bidang produksi pertanian dan distribusi hasil-hasil pertanian. Koperasi ini diharapkan mampu menampung hasil produksi petani dan melakukan pemasaran bersama hasil produksi petani secara adil sehingga mampu memutus mata rantai distribusi. Dalam hal ini anggota Koperasi yang bernama ”Koperasi Mertani Alami (METAL)” mengembangkan padi organik. Jenis usaha yang akan dikembangkan pada tahap awal adalah produksi pupuk organik dan beras organik. Sasaran konsumen koperasi mulai dari anggota, petani non anggota, pedagang lokal, hingga instansi pemerintah.

Pupuk organik yang dikembangkan berupa pupuk kompos dan pupuk cair secara umum memiliki permintaan yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan kualitas produk yang baik dan harga yang lebih rendah dibanding produsen pupuk lainnya. Sementara untuk produk beras organik yang dikembangkan adalah varietas pandan wangi dan IR 64 juga memiliki permintaan yang cukup tinggi, tetapi masih harus diperbaiki dengan menggunakan sistem pengendalian internal (ICS) di tingkat kelompok.

Setelah 6 bulan berjalan, kini koperasi ”Metal” sudah memiliki badan hukum dan telah memulai usaha menjual pupuk kompos organik sebanyak 22 ton senilai Rp 11.000.000. Koperasi juga berhasil membangun jaringan dengan Gapoktan Kecamatan salem, PT Laut selatan Kecamatan Larangan, Brebes dan KSU Barokah Kecamatan Margasari Kabupaten tegal dalam hal suplai pupuk kompos. Untuk beras organik masih dilakukan penjualan secara individu, karena kurangnya SDM pemasaran di koperasi.

Beberapa permasalahan yang dihadapi selama ini diantaranya manajemen yang tertata, pendataan anggota masih belum optimal, belum memiliki penggilingan khusus padi organik, pengemasan yang belum rapi, dan pengumpulan modal yang masih kecil, serta mekanisme penentuan harga produk yang belum stabil karena masih mengikuti mekanisme pasar.

Diposkan oleh Aliansi Petani Indonesia 0 komentar

Subscribe here

Dokumentasi